
DEKADE, SAMARINDA – Dugaan karyawan dan mantan karyawan terhadap sikap manajemen Rumah Sakit Haji Darjad (RSHD) yang hendak cuci tangan terkait pelbagai masalah internal mereka, bukan sekadar gosip belaka. Senin 5 Mei 2025 lalu, misalnya, saat sedang melakukan demonstrasi di depan lobi Gedung Nilam RSHD, isi chat Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSHD Setiyo Irawan, A.Md.,Kep., diduga bocor dan beredar di antara ponsel milik karyawan dan mantan karyawan.
Dalam isi percakapan yang diteruskan itu, diketahui jika Tiyo –sapaannya– menyatakan jika kejelasan tunggakan gaji karyawan dan mantan karyawan RSHD menunggu pemberitahuan dari lawyer. “Untuk kapannya saya kurang tahu. Tapi dalam waktu dekat kayaknya. Ditunggu saja ya nanti dikabari,” tulisnya.
Dalam pesan via aplikasi WhatsApp (WA) itu, Setiyo Irawan menegaskan konteks pemberitahuan tersebut bukan soal pembayaran tunggakan gaji. “Bukan yang bayar RS, tapi yang umumkan lawyer karena sudah diserahkan ke lawyer untuk urusan ini mbak. Saya enggak dikasih wewenang untuk menjawab masalah ini,” akunya.
Menariknya, dalam isi pesan itu, Setiyo Irawan mengaku kebingungan dan tidak mengetahui perihal penggajian. “Yaitu mbak saya juga bingung harus bagaimana lagi. Mudah-mudahan segera ibayar gaji karyawan ya,” jelasnya. “Walah mbak saya enggak tahu hal penggajian orang keuangan yang biasanya transfer,” timpal Setiyo Irawan.

Sehari setelah itu. Rabu 7 Mei 2025, kabar yang beredar menyebut Setiyo Irawan justru diduga melarikan diri. Informasi ini diterima media ini dari Muhammad Erwin Ardiansyah Dardjat, juru bicara keluarga H. Dardjat sekaligus salah satu ahli waris H. Dardjat, sekira pukul 12.02 Wita. Menurutnya, informasi ini diterima dari salah satu keluarga H. Dardjat yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal Setiyo Irawan. “Tyo sudah kabur juga bawa ransel digonceng motor,” tulisnya di pesan singkat via aplikasi WA. “Dari keluarga yang depan rumah,” sambung pesan Muhammad Erwin Ardiansyah Dardjat.
Salah satu karyawan RSHD berinisial X, mengatakan pesan Setiyo Irawan tersebut sangat berbanding terbalik dengan isi pengumuman mengenai penghentian operasional dan layanan di RSHD yang ditempel di lantai 3 pintu masuk Ruang Manajemen, Gedung Nilam RSHD. Dimana, disebutkan hak karyawan akan dibayarkan paling lambat Jumat 29 Agustus 2025 dengan paraf Setiyo Irawan ssebagai Plt Direktur RSHD.
“Di chat dia bilang akan diumumkan lawyer. Tapi justru di pengumuman dia bilang hak kami akan dibayar 29 Agustus. Ini jelas Plt Direktur RSHD berusaha membohongi kami. Kami tidak akan tinggal diam, kami tidak mau menunggu sampai tanggal 29 Agustus,” tegas karyawan yang enggan mamanya dipublikasikan ini, Kamis 8 Mei 2025.
Hal senada juga diungkapkan Y, karyawan RSHD lain yang enggan Namanya dipublikasikan. Baginya, sikap Setiyo Irawan sebagai Plt Direktur RSHD menunjukkan jika manajemen tidak konsisten dan tidak professional dalam melaksanakan kebijakannya sendiri. “Kami maklum kalau dia enggak ngerti apa-apa, karena cuma lulusan D3 (Diploma 3) Keperawatan. Yang kami enggak bisa terima kok bisa bikin kebijakan akan membayar kami Agustus nanti, sementara dia kabur melarikan diri,” ketus Y.
Menurut Y, ia bersama karyawan dan mantan karyawan RSHD lain, saat ini sudah tidak mempercayai papun informasi yang keluar dari manajemen RSHD. Baik itu dari Plt Direktur RSHD Setiyo Irawan, Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Direktur Utama (Dirut) PT Medical Etam (ME) drh. Iliansyah, General Manager (GM) RSHD Sulikah Amir, dan Human Resource Development (HRD) RSHD Mentari Oktamelina. “Sejak Maret sampai detik ini, tidak ada satupun pernyataan mereka yang terealisasi. Kami tetap akan menuntut mereka sesuai engan prosedur yang berlaku,” terang Y.
IJAZAH MANTAN KARYAWAN TAK JELAS
Seperti diketahui, nasib RSHD saat ini benar-benar di ujung tanduk. Rabu 7 Mei 2025, RSHD resmi berhenti beroperasi. Fakta itu diketahui dari terbitnya surat pengumuman tertanggal Rabu 7 Mei 2025. Dalam pengumuman itu tertulis, seluruh operasional dan pelayanan di RSHD dihentikan sementara. Alasannya, manajemen RSHD akan melakukan pembenahan menyeluruh. Pengumuman tersebut ditandatangani oleh Plt Direktur RSHD Setiyo Irawan, A.Md.,Kep.
Dari pantauan DEKADE Kamis 8 Mei 2025 hari ini, suasana di RSHD memang tampak sepi. Tak ada aktivitas apapun. Kecuali satu dua security yang tampak berjaga. Selain menutup pintu pagar di halaman parkir Gedung Jamrud RSHD, portal juga terpasang di jalan menuju parkir Gedung Nilam RSHD. Berhentinya aktivitas di RSHD sudah terlihat sejak Senin 5 Mei 2025. Di Unit Gawat Darurat (UGD) yang terletak di depan Gedung Nilam RSHD, nyaris tak ada aktivitas apapun. Selain tidak ada pasien, perawat dan dokter jaga pun tidak terlihat.
Sementara itu, akibat situasi yang makin tak menentu ini, sejumlah hak karyawan dan mantan karyawan RSHD –selain gaji– justru makin menggantung. Enie Rahayu Ningsih, misalnya. Selain pesangon, denda gaji, hingga Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan yang belum jelas juntrungannya, ijazah miliknya yang bertahun-tahun ditahan manajemen RSHD semakin tak jelas keberadaannya.
Perempuan yang telah bekerja di RSHD sekira dua dekade lebih itu telah berupaya menghubungi sejumlah pihak. Selain karyawan dan mantan karyawan RSHD, ia juga sempat datang ke RSHD sebelum menanyakan hal tersebut kepada staf manajemen bernama Salmawati. “Saya tanya baik-baik, nomor saya justru diblok. Saya sempat ke RSHD ketemu kepala security pak Yusuf. Katanya ijazah saya enggak ada. Kalau begini siapa yang bertanggung jawab? Semua manajemen tidak bisa dihubungi dan menghindar,” keluhnya.
Lantaran tak menemui kejelasan apapun, Enie Rahayu Ningsih menyatakan, masalah ini akan dilaporkannya kepada dinas terkait. “Saya akan lapor ke dinas. Manajemen harus bertanggung jawab terhadap ijazah aya yang ditahan bertahun-tahun di ana,” tukasnya.
Sementara tu, DEKADE bukan tanpa upaya untuk melakukan wawancara langsung kepada manajemen RSHD. Sejak Senin 17 Maret 2025, media ini mencoba melakukan konfirmasi melalui call center dan datang langsung ke RSHD. Namun tak mendapat respon. Bahkan, untuk kesekian kalinya, DEKADE kembali melakukan konfirmasi melalui call center RSHD, Selasa 22 April 2025, sekira pukul 15.24 Wita. Melalui salah satu petugas Front Office (FO), Rizka Adnaya, media ini sempat menjelaskan maksud konfirmasi kepada manajemen RSHD mengenai pelbagai masalah yang kini jadi atensi publik.
Tak hanya sampai disitu, DEKADE juga menyampaikan telah mengikuti prosedur yang diminta untuk janji temu kepada manajemen RSHD. Sayangnya, upaya tersebut tak membuahkan hasil. “Kalau untuk ngomong langsung ke manajemen kayaknya agak sulit,” kata Rizka Adnaya. (de)



